Assalamu’alaikum (calon) Bundaku yang insya Allah dirahmati
Allah.
Aku (calon) anakmu yang sudah dipersiapkan Allah untuk
berada di rahimmu jika saatnya tiba. Saat dirimu sudah sah menikah dengan
(calon) ayahku kelak.
Bunda…
Aku dengar ada seorang anak berusia 5 tahun yang sudah
menjadi tahfidz Al-Qur’an. Dia hafal 29 juz dan tinggal menghafal beberapa
surat hingga dapat menggenapinya menjadi 30 juz. Apa itu benar, Bunda? Pasti
orang tuanya bangga sekali ya, Bunda?
Saat aku hadir nanti, aku ingin seperti dia, Bunda.
Bolehkah? Aku ingin membanggakan Ayah dan Bunda. Tapi, apakah Bunda bersedia
mengajari dan membimbingku dengan sabar?
Bunda…
Saat dalam rahimmu nanti, bukan lagu klasik ataupun rock
yang ingin ku dengarkan melalui earphone, yang ditempelkan di perut Bunda agar
aku mendengarnya. Aku hanya ingin mendengarkan lantunan ayat Al-Qur’an yang
keluar dari mulutmu, Bunda. Itu yang membuatku tenang. Apakah Bunda bersedia
melakukannya?
Bunda…
Sebelum aku lahir, bahkan mungkin sebelum Allah
mempertemukan Bunda dengan Ayah. Bersediakah Bunda menuntut ilmu Allah untuk
bekal mengajariku kelak? Aku ingin Bunda yang memperkenalkan aku dengan
ayat-ayat Allah. Bunda yang mengajariku tata cara sholat, membaca Al-Qur'an,
berpuasa, dan mengamalkan Rukun Islam dan Rukun Iman. Aku ingin dibimbing oleh
Bunda sebelum aku disekolahkan. Apakah Bunda bersedia?
Aku tahu, Bunda dan Ayah adalah orang pertama yang akan
mengajarkan banyak hal kepadaku. Kalian lah sebagai pendidik pertama bagiku.
Walau mungkin waktuku akan lebih banyak dihabiskan dengan Bunda. Karena Ayah
bertugas mencari nafkah untuk kita, kan?
Bunda…
Aku dengar biaya untuk mengenyam pendidikan formal itu tidak
murah ya? Tapi itu takkan jadi alasan Bunda untuk tidak menuntut ilmu Allah,
kan? Ilmu Allah tak hanya bisa di dapat dari sekolah formal saja kok, Bunda.
Bunda bisa ke madrasah/majlis, bertanya dengan yang lebih paham. Kalau Bunda
saja tidak mau mencari ilmu itu, bagaimana dengan diriku nanti, Bunda? Aku
ingin mendengar cerita-cerita Nabi dan Rasul dari Bunda. Aku ingin lebih dekat
dengan Allah melalui Bunda. Bunda tidak kasihan kepadaku jika aku tidak tahu
apa-apa,nantinya? Guru itu hanya pelengkap. Bunda dan Ayah lah guru utama
bagiku.
Bunda…
Sekarang, sebelum kita dipertemukan, maukah Bunda meluangkan
sedikit waktu untuk belajar mengaji? Aku tidak mau (calon) Bundaku hanya
memikirkan urusan dunia. Karena, mau pendidikan Bunda setinggi apapun, gelar
Bunda sebanyak apapun, pekerjaan Bunda sebagus apapun, gaji yang Bunda peroleh
sebesar apapun, yang ku tahu, Bunda tetaplah Bundaku. Bunda tetap makmum dari
ayahku. Tanpa embel-embel.
Bunda…
Jika Bunda berpikir bahwa ‘terlalu cepat’ memikirkan
ini semua untuk kebaikan diriku yang belum ada di hidupmu saat ini, dan Bunda
keberatan melakukannya untukku, lakukanlah demi dirimu sendiri, Bunda. Untuk
kebaikan dan bekalmu nanti.
Bunda…
Maaf jika ku bawel dan sok menasehati Bunda. Itu semua
karena aku ingin kita semakin dekat dengan Allah. Aku ingin keluar dari rahim
Bunda. Bunda yang pintar dan hebat. Karena saat aku dilahirkan menjadi anak
yang hebat, ada Bunda dan Ayah yang hebat dibalik itu semua.
Bunda…
Jangan bilang siapa-siapa kalau aku menuliskan ini semua
untukmu ya? Aku takut (calon) ayahku iri karena aku tidak menuliskan apa-apa
untuknya. Bukan tidak, mungkin belum. Nanti kalau ada waktu, aku akan
menuliskan sesuatu juga untuknya.
Jangan lupa mengaji ya, Bunda. Mengurusi urusan dunia saja
tidak akan ada habisnya.
Salam sayang dari (calon) anakmu..
Wassalamu’alaikum.
