Pernah terbesit dalam pikiran, sepertinya menyenangkan memiliki kekasih seorang pendaki. Karena menurut saya, pendaki itu sosok yang berani, kuat, peduli dan tak pantang menyerah. Melewati naik turun landai curamnya perjalanan hingga mencapai puncak saja berani, masa menjalani hubungan hingga mencapai puncak pernikahan saja ragu-ragu? Membawa beratnya beban carrier di punggung saja kuat, masa menjadi tulang punggung saja tak bisa? Kepada orang lain yang belum dikenal di atas sana saja saling peduli, tentunya kepada keluarga dan orang yang disayang akan lebih peduli, kan?
Selelah apapun dalam mendaki, akan selalu ada semangat untuk mencapai apa yang dituju, kan? Tentunya orang seperti itu mungkin punya pandangan jauh ke depan, menatap masa depan. Tak mudah menyerah meski banyak halangan dan rintangan. Begitu pun dalam menjalin hubungan, mungkin.
Memang itu semua hanya penganalogian. Karena pada dasarnya hidup ini sama seperti mendaki yang setiap langkahnya selalu memiliki tujuan dan ingin mencapai puncak.
Saya pun berkeinginan untuk mendaki bersama kekasih saya, kelak. Sepertinya menyenangkan bisa merasakan sensasi perjalanan alam dengan seseorang yang kita sayang. Bersama-sama berjuang untuk menuju puncak. Hmm, indahnya…
Katanya, “Pacarilah seorang pendaki!”.
Tapi saya pernah mendengar keluhan dari seseorang. Dimana ketika seorang temannya (lelaki) mendaki dengan sang kekasih, si perempuan menjadi sosok yang manja. Belum apa-apa sudah bilang capek lah, gak kuat lah, pengen pulang lah. Dimana teman-temannya yang lain mengeluhkan hal itu.
Ada lagi, ketika teman saya akhirnya tidak bisa ikut ke puncak bersama teman yang lain. Dia memilih diam di tenda dan menemani kekasihnya karena merasa tidak kuat lagi untuk mendaki. Teman-teman yang lain menyayangkan hal itu. Bahkan seorang teman mengatakan, “Kalau mau naik gunung jangan sama pacar deh, yang ada nanti manja. Jadi nyusahin”.
Baru-baru ini saya mendengar seorang teman (lelaki) berkata, “Kapok naik gunung bawa cewek mah”, “Bawa cewe mah ngerepotin”, dan banyak keluhan-keluhan lainnya.
Dari situ saya berpikir. Jika kekasih saya seorang pendaki, apa dia bersedia mengajak saya dan siap menerima resiko dengan kodrat yang saya miliki? Apa saya akan dikeluhkan juga oleh dia atau teman-temannya? Atau hanya ingin saya diam di rumah, menunggu dia yang mungkin tak ada kabar beberapa hari, sedangkan dia dengan asiknya bercengkrama dengan alam?
Walau saya seorang penikmat alam juga, saya akui, fisik perempuan tidak sama dengan fisik lelaki. Tapi setiap perempuan pun memiliki kemampuan masing-masing yang tidak bisa disamaratakan, bukan?
Ingin rasanya menginjakan kaki di puncak sana bersama orang terkasih. Tapi saya takut ketika saya lelah dan memilih menyerah di tengah jalan, itu menghambat dia untuk mencapai puncak juga. Walaupun orang-orang mengatakan, “Puncak itu hanya bonus”.
Memang, pemikiran orang pasti berbeda-beda. Walaupun saya takut menyusahkan, belum tentu dia merasa disusahkan.
Dengan segala keterbatasan, kelemahan, dan ketakutannya seorang perempuan, dia tetap ingin menemani sang kekasih. Sebisa mungkin berusaha untuk tidak merepotkan, walau pada akhirnya merepotkan juga.
Sebenarnya, kelak pasangan kita seorang pendaki atau bukan, hati kita yang bisa menentukan. Tergantung bagaimana kita menjalaninya. Karena kalaupun bukan seorang pendaki, gunung bukan hanya dapat dinikmati oleh pendaki saja, kan? Tuhan menciptakan gunung agar bisa dinikmati, dijaga, dan disyukuri oleh makhluk-Nya. Tentunya dengan menjaga keindahannya dan tetap menjalankan ibadah sekalipun sedang berada di alam.
Orang yang hanya menaklukan puncak pegunungan itu banyak dan biasa. Namun yang bisa menaklukan diri sendiri ketika mendaki dengan tetap menjalankan kewajiban sebagai makhluk Tuhan, itu langka dan luar biasa.
Jadi sebenarnya, tetap bisa mendaki dengan kekasih kita, sekalipun dia bukan pendaki sungguhan. Betul?
Karena mendaki yang saya harapkan itu tak hanya mendaki gunung, tapi juga mendaki masa depan dan sama-sama menemani sampai akhir hayat, berjuang untuk mencapai puncak kebahagiaan dunia dan akhirat.
Jika pada waktunya nanti kita benar-benar bisa bersama untuk mendaki, ku harap kita bisa saling menyemangati, bukan menakuti sesuatu yang belum tentu terjadi. Saling memperjuangkan, bukan saling mengeluhkan.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar