Sabtu, 26 Juli 2014

Dear (Calon) Bunda

Assalamu’alaikum (calon) Bundaku yang insya Allah dirahmati Allah.
Aku (calon) anakmu yang sudah dipersiapkan Allah untuk berada di rahimmu jika saatnya tiba. Saat dirimu sudah sah menikah dengan (calon) ayahku kelak.

Bunda…

Aku dengar ada seorang anak berusia 5 tahun yang sudah menjadi tahfidz Al-Qur’an. Dia hafal 29 juz dan tinggal menghafal beberapa surat hingga dapat menggenapinya menjadi 30 juz. Apa itu benar, Bunda? Pasti orang tuanya bangga sekali ya, Bunda?
Saat aku hadir nanti, aku ingin seperti dia, Bunda. Bolehkah? Aku ingin membanggakan Ayah dan Bunda. Tapi, apakah Bunda bersedia mengajari dan membimbingku dengan sabar?

Bunda…

Saat dalam rahimmu nanti, bukan lagu klasik ataupun rock yang ingin ku dengarkan melalui earphone, yang ditempelkan di perut Bunda agar aku mendengarnya. Aku hanya ingin mendengarkan lantunan ayat Al-Qur’an yang keluar dari mulutmu, Bunda. Itu yang membuatku tenang. Apakah Bunda bersedia melakukannya?

Bunda…

Sebelum aku lahir, bahkan mungkin sebelum Allah mempertemukan Bunda dengan Ayah. Bersediakah Bunda menuntut ilmu Allah untuk bekal mengajariku kelak? Aku ingin Bunda yang memperkenalkan aku dengan ayat-ayat Allah. Bunda yang mengajariku tata cara sholat, membaca Al-Qur'an, berpuasa, dan mengamalkan Rukun Islam dan Rukun Iman. Aku ingin dibimbing oleh Bunda sebelum aku disekolahkan. Apakah Bunda bersedia?
Aku tahu, Bunda dan Ayah adalah orang pertama yang akan mengajarkan banyak hal kepadaku. Kalian lah sebagai pendidik pertama bagiku. Walau mungkin waktuku akan lebih banyak dihabiskan dengan Bunda. Karena Ayah bertugas mencari nafkah untuk kita, kan?

Bunda…

Aku dengar biaya untuk mengenyam pendidikan formal itu tidak murah ya? Tapi itu takkan jadi alasan Bunda untuk tidak menuntut ilmu Allah, kan? Ilmu Allah tak hanya bisa di dapat dari sekolah formal saja kok, Bunda. Bunda bisa ke madrasah/majlis, bertanya dengan yang lebih paham. Kalau Bunda saja tidak mau mencari ilmu itu, bagaimana dengan diriku nanti, Bunda? Aku ingin mendengar cerita-cerita Nabi dan Rasul dari Bunda. Aku ingin lebih dekat dengan Allah melalui Bunda. Bunda tidak kasihan kepadaku jika aku tidak tahu apa-apa,nantinya? Guru itu hanya pelengkap. Bunda dan Ayah lah guru utama bagiku.

Bunda…

Sekarang, sebelum kita dipertemukan, maukah Bunda meluangkan sedikit waktu untuk belajar mengaji? Aku tidak mau (calon) Bundaku hanya memikirkan urusan dunia. Karena, mau pendidikan Bunda setinggi apapun, gelar Bunda sebanyak apapun, pekerjaan Bunda sebagus apapun, gaji yang Bunda peroleh sebesar apapun, yang ku tahu, Bunda tetaplah Bundaku. Bunda tetap makmum dari ayahku. Tanpa embel-embel.

Bunda…

Jika Bunda berpikir bahwa ‘terlalu cepat’ memikirkan ini semua untuk kebaikan diriku yang belum ada di hidupmu saat ini, dan Bunda keberatan melakukannya untukku, lakukanlah demi dirimu sendiri, Bunda. Untuk kebaikan dan bekalmu nanti.

Bunda…

Maaf jika ku bawel dan sok menasehati Bunda. Itu semua karena aku ingin kita semakin dekat dengan Allah. Aku ingin keluar dari rahim Bunda. Bunda yang pintar dan hebat. Karena saat aku dilahirkan menjadi anak yang hebat, ada Bunda dan Ayah yang hebat dibalik itu semua.

Bunda…

Jangan bilang siapa-siapa kalau aku menuliskan ini semua untukmu ya? Aku takut (calon) ayahku iri karena aku tidak menuliskan apa-apa untuknya. Bukan tidak, mungkin belum. Nanti kalau ada waktu, aku akan menuliskan sesuatu juga untuknya.

Jangan lupa mengaji ya, Bunda. Mengurusi urusan dunia saja tidak akan ada habisnya.

Salam sayang dari (calon) anakmu..

Wassalamu’alaikum.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar